Aspek Imunologi Imunisasi

Aspek Imunologi Vaksinasi – Imunisasi

Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau “liar”. Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).

Pemberian vaksin diberikan untuk merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Ada beberapa jenis vaksin. Namun, apa pun jenisnya tujuannya sama, yaitu menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit.

RESPONS IMUN

Dilihat dari berapa kali pajanan antigen maka dapat dikenal dua macam respons imun, yaitu respons imun primer dan respons imun sekunder.

  • Respons imun primerRespons imun primer adalah respons imun yang terjadi pada pajanan pertama kalinya dengan antigen. Antibodi yang terbentuk pada respons imun primer kebanyakan adalah IgM dengan titer yang lebih rendah dibanding dengan respons imun sekunder, demikian pula daya afinitasnya. Waktu antara antigen masuk sampai dengan timbul antibodi (lag phase) lebih lama bila dibanding dengan respons imun sekunder .
  • Respons imun sekunder Pada respons imun sekunder, antibodi yang dibentuk kebanyakan adalah IgG, dengan titer dan afinitas yang lebih tinggi, serta fase lag lebih pendek dibanding respons imun primer. Hal ini disebabkan sel memori yang terbentuk pada respons imun primer akan cepat mengalami transformasi blast, proliferasi, dan diferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan antibodi. Demikian pula dengan imunitas selular, sel limfosit T akan lebih cepat mengalami transformasi blast dan berdiferensiasi menjadi sel T aktif sehingga lebih banyak terbentuk sel efektor dan sel memori. Pada imunisasi, respons imun sekunder inilah yang diharapkan akan memberi respons adekuat bila terpajan pada antigen yang serupa kelak. Untuk mendapatkan titer antibodi yang cukup tinggi dan mencapai nilai protektif, sifat respons imun sekunder ini diterapkan dengan memberikan vaksinasi berulang beberapa kali.

Optimalisasi respons imun dari vaksinasi, ada empat tahapan respons imun yang harus dipicu oleh vaksin

  • Aktivasi sel APC.
  • Aktivasi, replikasi, serta diferensiasi sel B dan sel T yang akan menghasilkan sel B memori dan sel T memori.
  • Terbentuknya antibodi netralisasi.
  • Keberadaan antigen yang bertahan lama pada jaringan limfoid sehingga mampu memproduksi antibodi dan sel B memori.

Faktor Yang Berpengaruh Pada Imunisasi

Pada dasarkan, secara alami ketika dilahirkan, kita sudah memiliki kekebalan atau imunias terhadap berbagai jenis serangan atau kehadiran zat asing yang masuk dalam tubuh. Kekebalan ini merupakan imunitas yang diterima dari ibu yang mengandung kita, yang dikenal sebagai maternal antibody. Maternal antibodi adalah kekebalan pasif pada bayi yang diterima dari ibunya. Kekebalan pasif ini memberi perlindungan terhadap penyakit infeksi, tetapi perlindungan yang ditimbulkan bersifat sementara. Kadar antibodi akan berkurang setelah beberapa minggu atau bulan, dan penerima tidak lagi kebal terhadap penyakit tersebut. Proses transformasi antibodi ini berlangsung melalui plasenta ketika usia kandungan pada 1 s/d 2 bulan di akhir masa kehamilan, sehingga seorang bayi akan mempunyai antibodi seperti ibunya. Maternal Antibodi yang diterima dari ibu mulai menurun pada usia 2 bulan dan terus berangsur-angsur menurun sampai empat bulan

Dengan semakin menurunnya maternal antibody pada bayi, kemudian diperlukan proses imunisasi. Kita  harus ingat tugas pokok dari vaksin, yaitu untuk menimbulkan kekebalan atau imunitas dari tubuh penerima vaksinasi.  Respons imun dapat dipengaruhi oleh maternal antibodi, sifat dan dosis antigen, jenis antigen, cara pemberian, jadwal pemberian, ajuvan, pengawet, serta antibiotik yang ada didalam vaksin. Juga pengaruh faktor penerima, seperti faktor genetik, jenis kelamin, umur, status gizi dan peyakit lain yang menyertai dan dapat mempengaruhi sistem kekebalan.

Keberhasilan vaksinasi dipengaruhi berbagai hal yang dapat ditemukan pada pejamu, seperti penggunaan obat imunosupresan, deijsiensi imun primer, atau penyakit Iain yang menyebabkan defisiensi imun sekunder seperti keganasan. Perlu diperhatikan bahwa semua keadaan tersebut merupakan kontraindikasi bagi pemberian vaksin hidup karena dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada individu tersebut. Penyakit sistemik dan keadaan gizi yang buruk pun bersumbangsih besar pada tingkat keberhasilan imunisasi. Malanutrisi akan menurunkan fungsi sel sistem imun, seperti makrofag dan limfosit. lmunitas seluler akan menurun, sementara imunitas humoral menunjukkan kadar antibodi yang normal bahkan meninggi. Namun, antibodi tidak dapat bekerja mengikat antigen secara efektif karena pada malanutrisi umumnya terjadi defisiensi asam amino yang sangat diperlukan untuk sintesis antibodi.

Keberhasilan imunisasi tergantung pada beberapa faktor, yaitu status imun host, faktor genetik host, serta kualitas dan kuantitas vaksin.

  • Status imun individu Adanya antibodi spesifik pada individu terhadap vaksin yang diberikan akan mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Misalnya pada bayi yang semasa fetus mendapat antibodi maternal spesifik terhadap virus campak, bila vaksinasi campak diberikan pada saat kadar antibodi spesifik campak masih tinggi akan memberikan hasil yang kurang memuaskan.  Demikian pula air susu ibu (ASI) yang mengandung IgA sekretori (sIgA) terhadap virus polio dapat mempengaruhi keberhasilan vaksinasi polio yang dlberikan secara oral. Tetapi umumnya kadar sIgA terhadap virus polio pada ASI sudah rendah pada waktu bayi berumur beberapa bulan. sIgA polio sudah tidak ditemukan lagi pada ASI setelah bayi berumur 5 bulan. Kadar sIgA tinggi terdapat pada kolostrum. Karena itu bila vaksinasi polio secara oral diberikan pada masa kadar sIgA polio ASI masih tinggi, hendaknya ASI jangan diberikan dahulu 2 jam sebelum dan sesudah vaksinasi. Keberhasilan vaksinasi memerlukan maturitas imunologik. Pada bayi neonatus fungsi makrofag masih kurang, terutama fungsi mempresentasikan antigen karena ekspresi HLA masih kurang pada permukaannya, selain deformabilitas membran serta respons kemotaktik yang masih kurang. Kadar komplemen dan aktivitas opsonin komplemen masih rendah, demikian pula aktivitas kemotaktik serta daya lisisnya. Fungsi sel Ts relatif lebih menonjol dibanding pada bayi atau anak karena memang fungsi imun pada masa intrauterin lebih ditekankan pada toleransi, dan hal ini masih terlihat pada bayi baru lahir. Pembentukan antibodi spesifik terhadap antigen tertentu masih kurang. Vaksinasi pada neonatus akan memberikan hasil yang kurang dibanding pada anak, karena itu vaksinasi sebaiknya ditunda sampai bayi berumur 2 bulan atau lebih. Status imun mempengaruhi pula hasil imunisasi. Individu yang mendapat obat imunosupresan, atau menderita defisiensi imun kongenital, atau menderita penyakit yang menimbulkan defisiensi imun sekunder seperti pada penyakit keganasan, juga akan mempengaruhi keberhasilan vaksinasi, bahkan adanya defisiensi imun merupakan indikasi kontra pemberian vaksin hidup karena dapat menimbulkan penyakit pada individu tersebut. Vaksinasi pada individu yang menderita penyakit infeksi sistemik seperti campak atau tuberkulosis milier akan mempengaruhi pula keberhasilan vaksinasi.Keadaan gizi yang buruk akan menurunkan fungsi sel sistem imun seperti makrofag dan limfosit. Imunitas selular menurun dan imunitas humoral spesifisitasnya rendah. Meskipun kadar globulin-γ normal atau bahkan meninggi, imunoglobulin yang terbentuk tidak dapat mengikat antigen dengan baik karena terdapat kekurangan asam amino yang dibutuhkan untuk sintesis antibodi. Kadar komplemen juga berkurang dan mobilisasi makrofag berkurang, akibatnya respons terhadap vaksin atau toksoid berkurang.
  • Faktor genetik Interaksi antara sel-sel sistem imun dipengaruhi oleh variabilitas genetik. Secara genetik respons imun manusia dapat dibagi atas responder baik, cukup, dan rendah terhadap antigen tertentu. Ia dapat memberikan respons rendah terhadap antigen tertentu, tetapi terhadap antigen lain tinggi sehingga mungkin ditemukan keberhasilan vaksinasi yang tidak 100%. Faktor genetik dalam respons imun dapat berperan melalui gen yang berada pada kompleks MHC dengan non MHC.Peran faktor genetik dalam respons imun terlihat pada peran gen yang berada pada kompleks MHC maupun gen non -MHC. Peran gen non-MHC tampak pada berbagai penyakit defisiensi imun yang terkait dengan gen lertentu, seperti agamaglobulinemia. Adanya variabilitas genetik itu menja
  • Gen kompleks MHCGen kompleks MHC berperan dalam presentasi antigen. Sel Tc akan mengenal antigen yang berasosiasi dengan molekul MHC kelas I, dan sel Td serta sel Th akan mengenal antigen yang berasosiasi dengan molekul MHC kelas II. Jadi respons sel T diawasi secara genetik sehingga dapat dimengerti bahwa akan terdapat potensi variasi respons imun. Secara klinis terlihat juga bahwa penyakit tertentu terdapat lebih sering pada HLA tertentu, seperti spondilitis ankilosing terdapat pada individu dengan HLA-B27.
  • Gen non MHC Secara klinis kita melihat adanya defisiensi imun yang berkaitan dengan gen tertentu, misalnya agamaglobulinemia tipe Bruton yang terangkai dengan kromosom X yang hanya terdapat pada anak laki-laki. Demikian pula penyakit alergi yaitu penyakit yang menunjukkan perbedaan respons imun terhadap antigen tertentu merupakan penyakit yang diturunkan. Faktor-faktor ini menyokong adanya peran genetik dalam respons imun, namun mekanisme yang sebenarnya belum diketahui.
  • Kualitas dan kuantitas vaksinVaksin adalah mikroorganisme atau toksoid yang diubah sedemikian rupa sehingga patogenisitas atau toksisitasnya hilang tetapi masih tetap mengandung antigenesitasnya. Beberapa faktor kualitas dan kuantitas vaksin dapat menentukan keberhasilan vaksinasinya seperti cara pemberian, dosis, frekuensi pemberian, ajuvan yang dipergunakan, dan jenis vaksin.
  • Cara Pemberian vaksin polio oral akan menimbulkan imunitas lokal di samping sistemik, sedangkan vaksin polio parenteral akan memberikan imunitas sistemik saja. Sedangkan berdasarkan aspek frekuensi pemberian imunisasi, juga mempengaruhi respons imun yang terjadi. Seperti telah diketahui, respons imun sekunder menimbulkan sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksi, dan afinitasnya. Di samping frekuensi, jarak pemberian pun akan mempengaruhi respons imun yang terjadi. Jika pemberian vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar antibodi spesifik masih tinggi, antigen yang masuk segera dinetralkan oleh antibodi spesifik yang masih tinggi tersebut sehingga tidak sempat merangsang sel imunokompeten
  • Faktor Ajuvan Ajuvan adalah zat yang secara nonspesifik meningkatkan respons imun terhadap antigen. Ajuvan akan meningkatkan respons imun dengan mempertahankan antigen pada atau dekat dengan tempat suntikan. Vaksin pertusis adalah suatu ajuvan yang poten: ini terbukti bahwa pada hasil penelitian di negara lain, kombinasi antigen pertusis kedalam vaksin DT akan memperbaiki imunogenitas toksoid dibandingkan jika diberikan secara tunggal. Persyaratan ajuvan harus aman, stabil, dan mudah diperoleh serta mempunyai sasaran khusus sel sistem imun dengan spesifisitas berdasarkan asalnya dari peranan sebagai imunomodulator. Banyaknya suntikan yang diberikan, dan kumulatif efek dari ajuvan akan menimbulkan abses steril, kemerahan, subcutaneous nodules, granolomatous inflamation dan kontak hipersensitiviti, yang diamati sebagai adanya reaksi lokal berupa kemerahan, pengerasan pada lokasi penyuntikan. National Vaccine Program Office (NVPO) pada workshop aluminium in vaccines di Puerto Rico, menurut FDA batas aluminium fosfat yang terdapat pada vaksin tidak melewati 0,85 mg/dosis.
  • Faktor bahan pengawet (preservative) pada vaksin juga berpengaruh pada respon imun ini. Menurut Vogel dkk (2004), bahan pengawet yang digunakan dalam vaksin, digunakan dalam jumlah yang sangat sedikit dapat mencegah kontaminasi bakteri dan mikro¬organisme lain pada vaksin, terutama vial multidosis yang telah dibuka. Pemberian vaksin kombinasi DTP/HB secara kumulatif akan mengurangi kadar zat pengawet yang terdapat di dalam vaksin
  • Faktor Antibiotik yang yang digunakan dalam vaksin berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Sebagai contoh, neomycin, kanamycin yang ada di dalam vaksin campak, dapat menimbulkan reaksi alergi sistemik. Reaksi alergi yang parah dapat membahayakan jiwa. Namun, hal ini jarang terjadi, diperkirakan kemungkinan dapat ditemukan satu kasus dari setengah juta dosis vaksin. Reaksi alergi dapat diperkecil dengan skrining terlebih dahulu melalui wawancara sebelum dilakukan imunisasi.
  • Faktor suntikan yang Aman Salah satu kebijaksanaan program imunisasi di Indonesia, yaitu penggunaan satu jarum dan satu spuit steril untuk setiap suntikan. Kebijakan ini mulai diterapkan sejak tahun 2002, yaitu berupa penerapan kebijakan safety injection dan safe disposal management. Kebijakan ini pada dasarnya mengacu pada WHO/UNICEF/UNFPA joint statement on the use of autodisable syringe in immunization service tahun 1999. Sehingga mulai tahun 2003 Program Imunisasi rutin dan tambahan di Indonesia menggunakan alat suntik Autodisable syringe. Safety injection dan safe disposal management meliputi aman bagi penerima suntikan, aman bagi pelaku penyuntikan dan aman bagi lingkungan. Pada dasarnya Safety Injection, merupakan suatu  kondisi dalam hal mana sasaran imunisasi memperoleh kekebalan terhadap suatu penyakit, tidak ada dampak negatif berupa kecelakaan atau penularan penyakit pasca imunisasi pada sasaran maupun petugas, serta tidak menimbulkan kecelakaan atau penularan infeksi pada masyarakat atau lingkungan terkait.

JENIS-JENIS VAKSIN

  • Live attenuated vaccine Vaksin hidup yang dibuat dari bakteri atau virus yang sudah dilemahkan daya virulensinya dengan cara kultur dan perlakuan yang berulang-ulang, namun masih mampu menimbulkan reaksi imunologi yang mirip dengan infeksi alamiah. Sifat vaksin live attenuated vaccine, yaitu :
  • Vaksin dapat tumbuh dan berkembang biak sampai menimbulkan respon imun sehingga diberikan dalam bentuk dosis kecil antigen
  • Respon imun yang diberikan mirip dengan infeksi alamiah, tidak perlu dosis berganda
  • Dipengaruhi oleh circulating antibody sehingga ada efek netralisasi jika waktu pemberiannya tidak tepat.
  • Vaksin virus hidup dapat bermutasi menjadi bentuk patogenik
  • Dapat menimbulkan penyakit yang serupa dengan infeksi alamiah
  • Mempunyai kemampuan proteksi jangka panjang dengan keefektifan mencapai 95%
  • Virus yang telah dilemahkan dapat bereplikasi di dalam tubuh, meningkatkan dosisi asli dan berperan sebagai imunisasi ulangan

Contoh : vaksin polio (Sabin), vaksin MMR, vaksin TBC, vaksin demam tifoid, vaksin campak, gondongan, dan cacar air (varisela).

  • Inactivated vaccine (Killed vaccine) Vaksin dibuat dari bakteri atau virus yang dimatikan dengan zat kimia (formaldehid) atau dengan pemanasan, dapat berupa seluruh bagian dari bakteri atau virus, atau bagian dari bakteri atau virus atau toksoidnya saja. Sifat vaksin inactivated vaccine, yaitu :
  • Vaksin tidak dapat hidup sehingga seluruh dosis antigen dapat dimasukkan dalam bentuk antigen
  • Respon imun yang timbul sebagian besar adalah humoral dan hanya sedikit atau tidak menimbulkan imunitas seluler
  • Titer antibodi dapat menurun setelah beberapa waktu sehingga diperlukan dosis ulangan, dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif tetapi hanya memacu dan menyiapkan system imun, respon imunprotektif baru barumuncul setelah dosis kedua dan ketiga
  • Tidak dipengaruhi oleh circulating antibody
  • Vaksin tidak dapat bermutasi menjadi bentuk patogenik
  • Tidak dapat menimbulkan penyakit yang serupa dengan infeksi alamiah

Contoh : vaksin rabies, vaksin influenza, vaksin polio (Salk), vaksin pneumonia pneumokokal, vaksin kolera, vaksin pertusis, dan vaksin demam tifoid.

  • Vaksin Toksoid Vaksin yang dibuat dari beberapa jenis bakteri yang menimbulkan penyakit dengan memasukkan racun dilemahkan ke dalam aliran darah. Bahan bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin kuman. Hasil pembuatan bahan toksoid yang jadi disebut sebagai natural fluid plain toxoid yang mampu merangsang terbentuknya antibodi antitoksin. Imunisasi bakteri toksoid efektif selama satu tahun. Bahan ajuvan digunakan untuk memperlama rangsangan antigenik dan meningkatkan imunogenesitasnya. Contoh : Vaksin Difteri dan Tetanus
  • Vaksin Acellular dan Subunit Vaksin yang dibuat dari bagian tertentu dalam virus atau bakteri dengan melakukan kloning dari gen virus atau bakteri melalui rekombinasi DNA, vaksin vektor virus dan vaksin antiidiotipe. Contoh vaksin hepatitis B, Vaksin hemofilus influenza tipe b (Hib) dan vaksin Influenza.
  • Vaksin Idiotipe Vaksin yang dibuat berdasarkan sifat bahwa Fab (fragment antigen binding) dari antibodi yang dihasilkan oleh tiap klon sel B mengandung asam amino yang disebut sebagai idiotipe atau determinan idiotipe yang dapat bertindak sebagai antigen. Vaksin ini dapat menghambat pertumbuhan virus melalui netralisasai dan pemblokiran terhadap reseptor pre sel B.
  • Vaksin Rekombinan Vaksin rekombinan memungkinkan produksi protein virus dalam jumlah besar. Gen virus yang diinginkan diekspresikan dalam sel prokariot atau eukariot. Sistem ekspresi eukariot meliputi sel bakteri E.coli, yeast, dan baculovirus. Dengan teknologi DNA rekombinan selain dihasilkan vaksin protein juga dihasilkan vaksin DNA. Penggunaan virus sebagai vektor untuk membawa gen sebagai antigen pelindung dari virus lainnya, misalnya gen untuk antigen dari berbagai virus disatukan ke dalam genom dari virus vaksinia dan imunisasi hewan dengan vaksin bervektor ini menghasilkan respon antibodi yang baik. Susunan vaksin ini (misal hepatitis B) memerlukan epitop organisme yang patogen. Sintesis dari antigen vaksin tersebut melalui isolasi dan penentuan kode gen epitop bagi sel penerima vaksin.
  • Vaksin DNA (Plasmid DNA Vaccines) Vaksin dengan pendekatan baru dalam teknologi vaksin yang memiliki potensi dalam menginduksi imunitas seluler. Dalam vaksin DNA gen tertentu dari mikroba diklon ke dalam suatu plasmid bakteri yang direkayasa untuk meningkatkan ekspresi gen yang diinsersikan ke dalam sel mamalia. Setelah disuntikkan DNA plasmid akan menetap dalam nukleus sebagai episom, tidak berintegrasi kedalam DNA sel (kromosom), selanjutnya mensintesis antigen yang dikodenya. Selain itu vektor plasmid mengandung sekuens nukleotida yang bersifat imunostimulan yang akan menginduksi imunitas seluler. Vaksin ini berdasarkan isolasi DNA mikroba yang mengandung kode antigenyang patogen dan saat ini sedang dalam perkembangan penelitian. Hasil akhir  penelitian pada binatang percobaan menunjukkan bahwa vaksin DNA (virus dan bakteri) merangsang respon humoral dan selular yang cukup kuat,sedangkan penelitian klinis pada manusia saat ini sedang dilakukan.

Korelasi Cara pemberian vaksindan Imunitas

Cara pemberian vaksin akan mempengaruhi respons imun yang timbul. Misalnya vaksin polio oral akan menimbulkan imunitas lokal di samping sistemik, sedangkan vaksin polio parenteral akan memberikan imunitas sistemik saja.

  • Dosis vaksin Dosis vaksin terlalu tinggi atau terlalu rendah juga mempengaruhi respons imun yang terjadi. Dosis yang terlalu tinggi akan menghambat respons imun yang diharapkan, sedangkan dosis terlalu rendah tidak merangsang sel imunokompeten. Dosis yang tepat dapat diketahui dari hasil uji coba, karena itu dosis vaksin harus sesuai dengan dosis yang direkomendasikan.
  • Frekuensi pemberian Frekuensi pemberian juga mempengaruhi respons imun yang terjadi. Sebagaimana telah kita ketahui, respons imun sekunder menyebabkan sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksinya, dan afinitasnya lebih tinggi. Di samping frekuensi, jarak pemberian pun akan mempengaruhi respons imun yang terjadi. Bila vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar antibodi spesifik masih tinggi, maka antigen yang masuk segera dinetralkan oleh antibodi spesifik tersebut sehingga tidak sempat merangsang sel imunokompeten, bahkan dapat terjadi apa yang dinamakan reaksi Arthus yaitu bengkak kemerahan di daerah suntikan antigen akibat pembentukan kompleks antigen-antibodi lokal sehingga terjadi peradangan lokal. Oleh sebab itu, pemberian ulang (booster) sebaiknya mengikuti apa yang dianjurkan sesuai dengan hasil uji coba.
  • AjuvanAjuvan adalah zat yang secara nonspesifik dapat meningkatkan respons imun terhadap antigen. Ajuvan akan meningkatkan respons imun dengan cara mempertahankan antigen pada tempat suntikan, dan mengaktivasi sel APC untuk memproses antigen secara efektif dan memproduksi interleukin yang akan mengaktifkan sel imunokompeten lainnya.
  • Jenis vaksinVaksin hidup akan menimbulkan respons imun lebih baik dibandingkan vaksin lainnya seperti vaksin mati atau yang diinaktivasi (killed atau inactivated), atau komponen dari mikroorganisme. Rangsangan sel Tc memori membutuhkan suatu sel yang terinfeksi sehingga dibutuhkan vaksin hidup. Sel Tc dibutuhkan pada infeksi virus yang pengeluarannya melalui budding. Vaksin hidup diperoleh dengan cara atenuasi. Tujuan atenuasi adalah untuk menghasilkan organisme yang hanya dapat menimbulkan penyakit yang sangat ringan. Atenuasi diperoleh dengan cara memodifikasi kondisi tempat tumbuh mikroorganisme, misalnya suhu yang tinggi atau rendah, kondisi anaerob, atau menambah empedu pada media kultur seperti pada pembuatan vaksin TBC yang sudah ditanam selama 13 tahun. Dapat pula dipakai mikroorganisme yang virulen untuk spesies lain tetapi untuk manusia avirulen, misalnya virus cacar sapi.

PERSYARATAN VAKSIN

  • Dengan mempelajari respons imun yang terjadi pada pajanan antigen, terdapat empat faktor sebagai persyaratan vaksin, yaitu 1) mengaktivasi APC untuk mempresentasikan antigen dan memproduksi interleukin, 2) mengaktivasi sel T dan sel B untuk membentuk banyak sel memori, 3) mengaktivasi sel T dan sel Tc terhadap beberapa epitop, untuk mengatasi variasi respons imun yang ada dalam populasi karena adanya polimorfisme MHC, dan 4) memberi antigen yang persisten, mungkin dalam sel folikular dendrit jaringan limfoid tempat sel B memori direkrut sehingga dapat merangsang sel B sewaktu-waktu untuk menjadi sel plasma yang membentuk antibodi terus-menerus sehingga kadarnya tetap tinggi.
  • Apakah persyaratan ini seluruhnya dibutuhkan atau sebagian saja, tergantung dari ada atau tidaknya variasi respons genetik yang nyata dan respons imun yang dibutuhkan. Vaksin yang dapat memenuhi keempat persyaratan tersebut adalah vaksin virus hidup. Pada umumnya antibodi yang terbentuk akibat vaksinasi sudah cukup untuk mencegah terjadinya infeksi, sehingga pembentukan sel Tc terhadap berbagai epitop antigen tidak merupakan keharusan. Pada penyakit difteria dan tetanus misalnya yang dibutuhkan adalah antibodi untuk netralisasi toksin.

Referensi

  • Fulginiti VA. Immunization in clinical practice. Philadelphia: JB Lippincott. 1982. 2.
  • Atkinson,W., et al. 2000. Epidemiology and Prevention of Vaccine Preventable Disease
  • Aristegui, J., et al. 1997. Immune response to a combined hepatitis B, diphtheria, tetanus, and whole-cell pertusis vaccine administrated to infant at 2,4 and 6 month of age. Vaccine. Elsevier Science
  • Santos, J.,1999. Safety and efficacy of combination vaccines improved protection and kinetics; Depkes RI. 2005.
  • Plotkin SA, Mortimer EA. Vaccines. Philadelphia: WB Saunders, l988.
  • Pediatric vaccinations up date l990. Pediatr Clin North Am l990; 37 vol 3.
  • Gaur S, Kesarwala H, Gavai M, Gupta M, Willlains PW, Frenkel LD. Clinical immunology and infectious sel. Pediatr Clin North Am 1944; 4l :745-82.

www.mediaimunisasi.com

Provided By: MEDIAIMUNISASI.COM Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation “We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085101466102 – 085100466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 29614252 – 08131592-2012 – 08131592-2013 email : judarwanto@gmail.com Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC Online” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, MEDIA IMUNISASI Information Education Network. All rights reserved
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s