Mitos dan Kontroversi Imunisasi

image

Kematian bayi yang tinggi akibat vaksin di Amerika?

Tidak benar. Data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) dari FDA (Food & Drug Agency, semacam badan POM Indonesia) di Amerika tahun 19991-1994 mencatat 38.787 laporan kejadian ikutan pasca imunisasi. Oleh penulis buku, tabloid, atau milis, angka tersebut diasumsikan sebagai angka kematian bayi usia 1-3 bulan. Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi, tentu FDA AS sudah menghentikan vaksinasi. Pada kenyatannya, Amerika tidak pernah menghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90%.

Angka tersebut adalah keluhan effek samping yang dapat terjadi pada pemberian vaksin, seperti: nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah, yang rutin harus dicatat apabila ada laporan masuk. Jadi, angka tersebut bukan angka kematian akibat vaksin. Di Indonesia gejala ikutan pasca imunisasi juga dipantau oleh suatu badan yang disebut Komnas KIPI (KOmite Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).

Banyak anak yang meninggal saat imunisasi masal campak di Indonesia?

Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas/Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunologi, farmakologi, mikrobiologi dll. Berdasarkan analisis kajian terhadap keterangan keluarga, petgas kesehatan yang memberikan imunisasi, dokter yang merawat di rumah sakit, pemeriksaan fisik, dan laboratorium, anak tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak mendapat imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian anak tersebut tidak dapat dikatakan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak.

image

Demam, bengkak, nyeri, dan kemerahan yang dapat terjadi setelah imunisasi merupakan keadaan yang berbahaya?

Tidak berbahaya. Demam, nyeri, kemerahan, bengak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Umumnya, keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurunan panas, dikompres. Bila perlu dapat berkonsultasi kepada petugas kesehatan yang telah memberikan imunisasi untuk mendapat penjelasan, pertolongan atau pengobatan.

Program Imunisasi di Indonesia juga dipakai oleh 36 negara Islam?

Benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam.

image

Program imunisasi gagal di banyak negara?

Tidak benar. Pendapat tersebut bersumber dari data 50- 150 tahun lalu, hanya dari 1-2 negara, sehingga hasilnya sangat berbeda dengan hasil penelitian terbaru, karena jenis vaksin dan cara pembuatannya sangat berbeda.

Pernyataan bahwa imunisasi cacar variola gagal, berdasarkan data di Inggris tahun 1867 – 1880 dan Jepang tahun 1872-1892. Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar yang dilakukan di seluruh dunia, maka sejak tahun 1980 dunia bebas cacar variola.

Pernyataan bahwa imunisasi difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sampai sekarang vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri 95%. Pernyataan bahwa imunisasi pertusis gagal, hanya berdasarkan data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986. Fakta sampai sekarang vaksin pertusis dipakai di seluruh dunia dan berhasil menurunkan kasus pertusis lebih dari 80%.

Pernyataan bahwa imunisasi campak berbahaya hanya berdasarkan penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika. Fakta sampai sekarang vaksin campak dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan jumlah kasus campak 68-90%.

image

Program imunisasi gagal, karena bayi dan balita yang telah diimunisasi masih dapat tertular penyakit tersebut?

Tidak benar program imunisasi gagal.Perlindungan vaksin memang tidak 100%.  Bayi dan Balita yang telah diimunisasi masih bias tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Sedangkan bayi balita yang belum diimunisasi lengkap bila tertular penyakit tersebut bisa sakit berat, cacat, atau meninggal.

 
Imunisasi bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian bayi dan balita?

Benar. Badan penelitian di bebagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna. Oleh karena itu, saat ini program imunisasi dilakukan terus-menerus di banyak negara. Semua negara berusaha meningkatkan cakupan agar lebih dari 90%. Di Indonesia, terjadi wabah polio 2005-2006 karena banyak bayi yang tidak diimunisasi polio, maka menyebabkan 305 anak lumpuh permanen. Setelah digencarkan imunisasi polio, sampai saat ini tidak ada lagi kasus polio baru.

image

ASI, Terapi Herbal dan Nutrisi Tidak dapat menggantikan imunisasi untuk memberikan kekebalan spesifik terhadap penyakit?

Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bahwa kekebalan akibat imunisasi dapat digantikan oleh zat lain, termasuk ASI, nutrisi, maupun suplemen herbal, karena kekebalan yang dibentuk sangat berbeda. ASI, nutrisi, suplemen herbal, maupun kebersihan dapat memperkuat pertahanan tubuh secara umum, namun tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu yang berbahaya. Apabila jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih dapat sakit berat, cacat atau mati.

Vaksin akan merangsang pembentukan kekebalan spesifik (antibodi) terhadap kuman, virus atau racun kuman tertentu. Setelah antibodi terbentuk, vaksin akan bekerja lebih cepat, effektif dan effisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya.

Selain diberi imunisasi, bayi tetap diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan nutrisi lengkap dan seimbang, kebersihan badan dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai keburuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus mendapat perhatian dan kasih saying serta stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.

image

Bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap, rawan tertular penyakit berbahaya?

Benar. Banyak penelitian imunologi dan epidemiolohi di berbagai negara membuktikan bahwa bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap, tidak mempunyai kekebalan spesifik yang optimal terhadap penyakit menular berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit tersebut, dapat menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.

 Wabah akan terjadi bila banyak bayi dan balita tidak diimunisasi?

Benar. Hal tersebut sudah terbukti di beberapa negara Asia, Afrika, dan di Indonesia. Wabah polio tahun 2005 -2006 di Sukabumi karena banyak bayi balita tidak diimunisasi polio, dalam beberapa bulan virus polio menyebar cepat ke Banten, Lampung, Madura, sampai Aceh, menyebabkan 385 anak lumpuh permanen. Wabah campak di Jawa Tengah dan Jawa Barat 2009-2011 mengakibatkan 5818 anak di rawat di rumah sakit, 16 anak meninggal, terutama yang tidak diimunisasi campak. Wabah difteri dari Jawa Timur 2009-2011 menyebar ke Kalimantan Timur, Selatan, Tengah, Barat, DKI Jakarta, menyebabkan 816 anak harus di rawat di rumah sakit, 54 meninggal. Terutama yang imunisasinya belum lengkap atau belum pernah imunisasi DPT.

image

Imunisasi rutin dan imunisasi tambahan serentak di beberapa propinsi dapat menghentikan wabah?

Benar. Wabah polio di bebrapa propinsi tahun 2005-2006 telah berhasil dihentikan dengan imunisasi polio rutin dan tambahan secara serentak pada semua bayi/balita melalui beberapa kali Pekan Imunisasi Polio Nasional. Wabah campak di beberapa propinsi tahun 2009-2011 telah berhasil dihentikan dengan imunisasi campak rutin dan tambahan pada semua bayi balita 9 – 59 bulan di semua propinsi secara terus-menerus. Wabah difteri di beberapa propinsi tahun 2009-2011 telah berhasil dihentikan dengan imunisasi DPT rutin dan tambahan pada semua bayi balita di beberapa propinsi.

Sikap Orangtua

Sebaiknya semua bayi dan balita di imunisasi secara lengkap. Saat ini lebih dari 190 negara negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian. Negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara maju dengan tingkat sosial ekonomi tinggi, negara berkembang dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Ismlan, dengan cakupan umumnya lebih dari 85%.

Badan penelitian di berbagai negara membuktikan, makin banyak bayi dan balita yang tidak diimunisasi akan terjadi wabah, sakit berat, cacat, atau mati. Di Indonesia terjadi wabah penyakit polio pada 2005-2006 (385 anak lumpuh permanen), wabah campak tahun 2009-2010 (5818 anak dirawat di rumah sakit, meninggal 16), wabah difteri tahun 2010-2011 (816 anak di rawat di rumah sakit, 56 meninggal).

Saat ini telah ada beberapa jenis vaksin yang disediakan oleh pemerintah untuk imunisasi rutin, yaitu Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Campak dan vaksin-vaksin untuk jamaah haji (Meningitis). Disampinh itu, ada beberapa imunisasi lain yang memang belum disediakan oleh pemerintah.

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s