Inilah Pelaku Vaksin Palsu

wp-1466767063021.jpg
Rita Agustina, pelaku pembuat vaksin palsu yang ditangkap Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Tipideksus) Mabes Polri, adalah lulusan sebuah akademi perawat. Dia juga pernah bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta. Rita ditangkap bersama suaminya, Hidayat Taufiqurahman di rumah mewahnya  Perumahan Kemang Pratama Regency, Jalan Kumala 2 M29, RT 09/05, Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Dari penangkapan itu polisi membawa barang bukti berupa 36 dus vaksin atau sekitar 800-an ampul. Selain menangkap dua pasutri itu, polisi juga mengamankan 11 orang lainnya dari berbagai tempat di Jakarta, Banten dan Jabar, yang merupakan jaringan berbeda. Polisi mengendus praktik pembuatan vaksin palsu untuk bayi itu telah dilakukan sejak 2003.

Para tersangka dikenakan Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan denda Rp 1,5 miliar. Para tersangka dikenakan Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan denda Rp 1,5 miliar.

Rita Agustina

Rita Agustina, pembuat vaksin palsu yang kini sudah diamankan oleh Bareskrim Mabes Polri, dikenal sebagai sosok yang lembut dan santun. Setidaknya, penuturan itu disampaikan sejumlah perawat Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Hermina, di Bekasi Selatan, Kota Bekasi, tempat dia dahulu pernah bekerja selama sembilan tahun. Namun setelah terkuak bisnis vaksin palsu itu, dan dikerjakan oleh Rita dan suaminya Hidayat Taufiqurahman, sontak membuat beberapa rekan yang pernah bekerja bersamanya sebagai perawat di RS Hermina itu, mengaku terkejut dengan aksinya. “Dia pasti tahu kalau bisnisnya itu dapat mencelakakan anak kecil yang merupakan penerus bangsa. Saya tidak menyangka dengan perbuatannya,” ujar S, salah seorang perawat di RSIA Hermina Bekasi Selatan, Senin, 27 Juni 2016. Saat ditemui di RS Hermina, diceritakan oleh S, pada saat Rita bekerja di rumah sakit, dia mengaku berteman dekat, sehingga cukup mengenal sosok Rita. Sebab, mereka berdua pernah tinggal bersama di sebuah indekos sebelum Rita menikah.

“Kami juga pernah bertugas di tempat yang sama, di bagian poliklinik anak. Dan sosoknya baik dan sama sekali tak mencurigakan,” ujarnya.Sebelumnya, Wakil Direktur Umum RS Hermina Bekasi Selatan, Syarifudin, membenarkan jika Rita dahulu pernah bekerja di rumah sakit tersebut terhitung sejak Januari 1998 sampai Agustus 2007. “Ya betul, yang bersangkutan (Rita) pernah bekerja, tapi sudah lama keluar,” kata Syarifudin. Namun demikian, kata Syarifudin, setelah selama sembilan tahun bekerja, Rita lalu mengundurkan diri. Dengan alasan kala itu, ia ingin meneruskan usaha toko pakaian dalam di sebuah mal di daerah Bekasi. “Dia tidak dikeluarkan tapi mengundurkan diri dan ingin meneruskan usaha toko bajunya,” kata Syarifudin.

Sementara itu, diakui Syarifudin bahwa sosok Rita selama bekerja di rumah sakit sama sekali tak pernah menunjukkan gelagat yang mencurigakan. “Orangnya biasa saja, sama sekali enggak ada yang mencurigakan dari sosoknya,” ujarnya.

Rekan kerja sesama perawat di Rumah Sakit Hermina memang tak pernah curiga dengan bisnis vaksin palsu, yang dilakukan Rita Agustina dan suaminya. Padahal, dari keterangan polisi, bisnis itu telah digeluti Rita sejak tahun 2003, atau persis sudah dikerjakan saat bekerja di RS Hermina. Menurut rekan kerja Rita saat menjadi perawat, bahkan, pada satu bagian yang sama yakni poliklinik anak, dia sama sekali tak menaruh curiga dan tak juga tahu bisnis sampingan Rita. Hanya saja, dia sering melihat Rita mengumpulkan botol bekas vaksin yang sudah dipergunakan oleh RS Hermina. “Tapi dia mengumpulkan botol itu tidak diketahui oleh pihak rumah sakit, karena bila mengacu prosedur harusnya botol bekas vaksin dimusnahkan,” tutur S, Senin, 27 Juni 2016. Dia mengungkapkan, botol-botol itu dikumpulkan Rita setelah membeli dari seseorang. Akan tetapi, siapa orangnya dia tidak mengetahuinya. “Setahu dirinya, botol bekas vaksin yang dikumpulkan seperti hib, infanrix, engerix dan vaksin lainnya merupakan vaksin yang dibanderol dengan harga cukup mahal,” terangnya. Diakui S, dia sempat menaruh curiga dengan kebiasaannya itu, sehingga sempat bertanya maksud Rita mengumpulkan botol kecil bekas vaksin itu. “Waktu saya tanya, dia bilang hanya buat dikumpulin saja. Saya sendiri tidak tahu dia beli sama siapa, harganya berapa,” kata dia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s