Dengvaxia, Vaksin DBD Baru Yang Telah hadir Di Indonesia

wp-1463014486052.jpgWHO mengumumkan secara resmi terproduksinya vaksin dengue untuk pencegahan infeksi virus dengue pada 15 April 2016 lalu. Nama vaksin yang diresmikan oleh WHO ini adalah Dengvaxia, vaksin yang telah diteliti selama dua puluh tahun ini merupakan hasil penelitian Sanofi Pasteur. Empat negara, Meksiko, Brazil, El Salvador, dan Filipina telah memiliki lisensi Dengvaxia. Vaksin ini diberikan secara tiga kali selama satu tahun melalui cara suntik. Vaksin ini ditujukan untuk populasi yang berumur lebih dari sembilan tahun yang terpapar virus pada daerah endemis. Indonesia, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sampai tahun 2019, vaksin DBD sudah disiapkan. Tingkat efektivitas vaksin ini bisa dikembangkan lagi. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia menyetujui vaksin dengue tetravalen impor milik Sanofi Pasteur untuk diproduksi dan diedarkan di daerah endemik demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia. Pesetujuan vaksin dengue di Indonesia ini merupakan pendaftaran kedua di Asia dan ketujuh di dunia.

Indonesia dan 127 negara beriklim tropis/subtropis lainnya di dunia merupakan wilayah endemik DBD. Insiden DBD akan meningkat jika musim penghujan datang. Kematian akibat DBD adalah karena syok dan perdarahan berat yang terlambat ditangani. Hal yang penting dalam penanggulangan DBD adalah pengendalian vektor (nyamuk Aedes aegypti) dan kebersihan lingkungan. Strategi pencegahan DBD pada rumah tangga dikenal dengan istilah 3M. 3M terdiri dari menguras/menyikat bak mandi, menutup tempat penampungan air (TPA), dan mendaur ulang barang bekas. Untuk penampungan air yang sulit dikuras dapat ditaburkan bubuk larvasida (abate). Tindakan lain yang dapat dilakukan adalah penggunaan kelambu saat tidur dan lotion anti nyamuk, serta pemeliharaan ikan sebagai predator nyamuk. Fogging (pengasapan) hanya bermanfaat untuk membasmi nyamuk dewasa ; jentik tidak dapat mati dengan pengasapan. Upaya pencegahan DBD lainnya adalah melalui pemberian vaksin dengue yang risetnya telah selesai dilakukan.wp-1463014486052.jpg

Dengue sendiri merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang berkembang di negara-negara tropis dan subtropis di Asia dan Amerika Latin. Penyakit ini menyumbang setengah populasi dunia karena ditemukan di lebih dari 120 negara, termasuk Indonesia. Untuk mengendalikan DBD, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan angka kematian DBD turun sebesar 50 persen dan morbiditas sebesar 25 persen pada 2020 di negara-negara endemik. Hingga kini, negara-negara Asia bisa menghabiskan sekitar USD 6,5 miliar per tahun untuk pengobatan Dengue.

Sanofi Pasteur, Divisi Vaksin Sanofi secara resmi meluncurkan vaksin DBD pertama di dunia, hari ini 24 Februari 2016. Rencananya, vaksin dengan Dengvaxia ini akan mulai beredar di Filiphina pada awal bulan Maret dan bulan Oktober di Indonesia. Vaksin ini telah disetujui sejak 22 Desember 2015 untuk mencegah DBD pada pasien dengan usia 9-45 tahun di daerah endemik dan akan diberikan dalam tiga dosis selama periode satu tahun. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia menyetujui vaksin dengue tetravalen milik Sanofi Pasteur untuk diproduksi dan diedarkan di daerah endemik demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia. Pesetujuan vaksin dengue di Indonesia ini merupakan pendaftaran kedua di Asia dan ketujuh di dunia.

Vaksin dengue milik Sanofi Pasteur telah disetujui sebelumnya di Meksiko, Brasil, El Savador, Costa Rica, Filipina, dan Paraguay. Demam berdarah di Indonesia menimbulkan beban ekonomi mencapai 323 juta dolar AS per tahun atau setara Rp 4,25 triliun. Angka ini merupakan tertinggi di dunia. Persetujuan vaksin dengue ini memberi  akses terhadap cara pencegahan inovatif untuk mengendalikan penyebarannya dan memperkuat sinergi pengendalian dengue di masa mendatang. Dokter dan layanan kesehatan  di Indonesia sekarang juga memiliki akses terhadap alat pencegahan klinis pertama.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan position paper atas vaksin dengue sejak 29 Juli 2016. Isinya merekomendasikan negara-negara endemik DBD, termasuk Indonesia untuk mengenalkan vaksin dengue milik Sanofi Pasteur sebagai bagian dari pencegahan terintegrasi. Ini termasuk di dalamnya pengendalian vektor dan mobilisasi masyarakat. WHO telah menetapkan tujuan untuk mengurangi angka kematian akibat DBD di negara-negara endemik sebesar 50 persen dan morbiditas hingga 25 persen pada 2020.  Sebanyak 70 persen populasi dunia yang berisiko terkena dengue di Asia.

Demam Berdarah Dengue

Demam berdarah atau demam dengue (disingkat DBD) adalah infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Nyamuk atau/ beberapa jenis nyamuk menularkan (atau menyebarkan) virus dengue. Demam dengue juga disebut sebagai “breakbone fever” atau “bonebreak fever” (demam sendi), karena demam tersebut dapat menyebabkan penderitanya mengalami nyeri hebat seakan-akan tulang mereka patah. Sejumlah gejala dari demam dengue adalah demam; sakit kepala; kulit kemerahan yang tampak seperti campak; dan nyeri otot dan persendian. Pada sejumlah pasien, demam dengue dapat berubah menjadi satu dari dua bentuk yang mengancam jiwa. Yang pertama adalah demam berdarah, yang menyebabkan pendarahan, kebocoran pembuluh darah (saluran yang mengalirkan darah), dan rendahnya tingkat trombosit darah (yang menyebabkan darah membeku). Yang kedua adalah sindrom renjat dengue, yang menyebabkan tekanan darah rendah yang berbahaya.

Terdapat empat jenis virus dengue. Apabila seseorang telah terinfeksi satu jenis virus, biasanya dia menjadi kebal terhadap jenis tersebut seumur hidupnya. Namun, dia hanya akan terlindung dari tiga jenis virus lainnya dalam waktu singkat. Jika kemudian dia terkena satu dari tiga jenis virus tersebut, dia mungkin akan mengalami masalah yang serius.

Vaksin

Riset vaksin dengue oleh Sanofi Pasteur sudah dilakukan sejak 20 tahun lalu. Indonesia dan beberapa negara lainnya di Asia Tenggara dan Amerika Selatan berpartisipasi dalam riset atau uji klinis vaksin dengue ini. Penemuan vaksin Dengue dianggap sebagai salah satu pencapaian historis dalam sejarah vaksinologi dan diyakini akan menurunkan angka kejadian demam Dengue/demam berdarah Dengue. Di awal tahun 2016, vaksin dengue pertama di dunia milik Sanofi, merek Dengvaxia, resmi beredar di Mexico dan menyusul beberapa negara lain, seperti Filipina, El Savador dan Brazil. Pada bulan September 2016 ini BPOM telah memberi persetujuan dan ijin edar di Indonesia vaksin dengue tetravalen merek Dengvaxia, produk Sanofi tsb.

wpid-wp-1446800422470.jpgMenurut Dr. Alain Bouckanoge, Wakil presiden Hubungan Penelitian Klinis dan Pengembangan Sanofi Thailand, selama beberapa tahun ini, perusahaan telah melakukan clinical trial pada tiap 10 orang per 1000 populasi di Asia Tenggara dan Amerika Latin dan terbukti 70% efektif untuk populasi di daerah endemis dan 90-95% efektif untuk pencegahan terjadinya komplikasi yang buruk.

Penelitian ini berlangsung lama karena bagian-bagian virus ini sangat rumit. Virus dengue memiliki empat strain, tidak seperti virus polio atau cacar. Jika seseorang terinfeksi lebih daru satu tipe virus dengue, ada peluang lebih besar terjadinya komplikasi yang lebih berat, sehingga menyebabkan perawatan lebih lama di rumah sakit atau kematian. Hasil laporan efek samping dari vaksin ini hanyalah efek samping ringan seperti pusing, nyeri kepala, atau demam ringan. Tidak dilaporkan efek samping yang lebih berat. Untuk program vaksin ini tergantung dari kebutuhan negara masing – masing dan tergantung pengaturan biaya pengeluaran dari negara masing-masing. Karena tidak mungkin jika suatu negara sudah membeli vaksin ini dan memasukkan program vaksin dengue, tetapi beberapa tahun kemudian berhenti karena keterbatasan biaya.

Terkait vaksin untuk DBD, pemerintah Indonesia masih belum memutuskan apakah ingin menggunakan vaksin Dengvaxia atau tidak. Seperti diketahui, Meksiko adalah negara pertama yang menerima vaksin Dengvaxia, untuk mencegah DBD, yang dikeluarkan oleh perusahaan farmasi besar dari Perancis. Dengvaxia telah didesain untuk digunakan oleh manusia yang memiliki usia 9-45 tahun dengan semua subtipe virus DBD yang ada.

Di Asia, negara yang pertama kali menerima vaksin tersebut adalah Filipina. Badan Pengawas Obat dan Makanan Filipina sudah mengakui bahwa vaksin Dengvaxia bisa mencegah penyakit demam berdarah yang disebabkan semua tipe virus Dengue pada daerah endemik.Idealnya vaksin tersebut bisa untuk orang Indonesia untuk DEN 1 sampai DEN 4. Kalau ternyata itu efektifnya untuk DEN 1-3 sementara yang paling banyak DEN 3-4 maka akan sayang.

Setiap suntikan vaksin mengandung 4 antigen virus dengue yg telah dilemahkan : DENV 1, DENV 2, DENV 3 dan DENV 4. Vaksin diberikan 3 kali suntikan dgn interval waktu 6 bulan (bulan 0-6-12). Vaksin disuntik subkutan (dibawah permukaan kulit). Vaksin ini efektif diberikan pada anak usia 9 tahun keatas. Vaksin dengue yang sekarang belum memberikan kekebalan yang efektif pada anak dibawah usia 9 tahun. Dibutuhkan riset lanjutan sehingga vaksin bisa menjangkau semua umur. Riset lanjutan juga diperlukan apakah seseorang membutuhkan vaksin ulangan (booster) untuk mempertahankan kadar antibodi yang memadai sampai dewasa. Vaksin dengue yang ada belum masuk program vaksinasi nasional, sehingga pemberian vaksin masih dilakukan secara mendiri. Harga vaksin terhitung relatif mahal namun sebanding dengan resiko menderita penyakit infeksi dengue berat bila tidak divaksin

Produksi Indonesia

Vaksin untuk mencegah demam berdarah dengue (DBD) produksi Indonesia sudah sangat dinantikan masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berjanji, tahun 2017 bakal mewujudkan mimpi ini, dengan harapan Indonesia bebas mengalami penularan penyakit dari nyamuk. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Pengendalian Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr HM Subuh, MPPM, mengatakan, “Kalau di Indonesia, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sampai tahun 2019, vaksin DBD sudah disiapkan. Tingkat efektivitas vaksin ini bisa dikembangkan lagi,” ujarnya saat temu media membahas DBD di Kantor Kementerian Kesehatan RI, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (12/1/2016).

Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek mengatakan vaksin untuk mengantisipasi Demam Berdarah Dengue (DBD) pernah dibuat di Indonesia, tetapi tidak lulus uji coba sehingga tidak disebarkan kepada masyarakat. Virus yang bisa menyebabkan DBD itu ada empat jenis yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Untuk DEN-1 dan DEN-2 pernah dicoba untuk membuat vaksinnya, tetapi setelah uji coba di Bio Farma, ternyata vaksin itu masih lemah

Masalahnya, lanjut dia, jenis virus di Indonesia berbeda dengan di Meksiko. Bila di negara berjuluk Azteg Tiger itu terdapat golongan virus den 1, den 2 dan den 3. Sementara di negara kita, golongan virusnya lebih banyak, yaitu den 1, den 2, den 3 dan den 4. “Kita maunya pakai vaksin komprehensif yang dapat mengcover virus den 1, den 2, den 3 dan den 4. Jadi, tanggung kalau kita pakai vaksin yang sama seperti mereka (Meksiko-red), kalau virusnya gak bisa dimatikan semua,” katanya. Kemenkes pun tetap menargetkan pengembangan vaksin DBD hingga tahun 2017 mendatang. Bahkan, produk ini juga akan dimasukkan ke dalam program imunisasi dasar, seperti BCG, DPT, polio, tetanus, hepatitis, dan lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s