Apa dan bagaimana Efektivitas Vaksin

 

wpid-wp-1446830787457.jpgDalam sejarah, vaksin adalah yang terefektif untuk melawan dan memusnahkan penyakit infeksi. Bagaimanapun, keterbatasan dari efektifitasnya ada.[2] Kadang-kadang, perlindungan gagal, karena sistem kekebalan yang diberi vaksin tidak memberikan tanggapan yang diinginkan atau malah tidak ada sama sekali. Kurangnya tanggapan terjadi, karena faktor-faktor klinis, misalnya diabetes, penggunaan steroid, infeksi HIV atau usia. Bagaimanapun hal ini juga terjadi karena faktor genetik, jika sistem kekebalannya tidak memiliki sel B strain yang dapat menghasilkan antibodi yang bereaksi efektif dan mengikat antigen dari patogen. Pada tahun 1958, terdapat 763,094 kasua campak  di Amerika Serikat; walaupun hanya 552 orang yang meninggal. Setelah pemakaian vaksin baru, jumlah kasus menurun hingga kurang dari 150 kasus per tahun (mediannya 56). Di awal tahun 2008, terdapat 64 kasus terduga tampek. 54 penderita mendapatkannya dari luar AS, dan hanya 13% yang benar-benar terkena di AS; 63 dari 64 orang tersebut belum pernah divaksinasi tampek atau tidak yakin telah divaksinasi sebelumnya

Bahkan jika yang divaksinasi mengembangkan antibodinya, proteksinya mungkin tidak cukup; kekebalan mungkin berkembang terlalu lambat, antibodi mungkin tidak dapat menumpas antigen sepenuhnya, atau bisa juga terdapat berbagai strain patogen, tidak semuanya bergantung pada sistem rekasi kekebalan. Bagaimanapun, bahkan hanya sebagian, terlambat, atau kekebalan yang lemah, seperti terjadi pada kekebalan silang pada suatu strain daripada strain target, mungkin meringankan infeksinya, yang menurunkan tingkat kematian, menurunkan banyaknya yang sakit (morbidity) dan mempercepat penyembuhan.

Vaksinasi ulang (Adjuvants) umumnya digunakan untuk meningkatkan tanggapan kekebalan, terutama untuk usia lanjut (50-75 tahun ke atas), di mana tanggapan kekebalan untuk vaksin sederhana mungkin melemah.[3] Keefektifitasan vaksin bergantung pada beberapa faktor:

  • penyakit itu sendiri (vaksin untuk penyakit A lebih ampuh daripada vaksin untuk penyakit B)
  • starin dari vaksin (beberapa vaksin spesifik terhadapnya, atau sekurangnya kurang efektif melawan strain tertentu dari penyakit)[4]
  • apakah jadwal imunisasi benar-benar dipatuhi.
  • tanggapan yang berbeda terhadap vaksin; sejumlah individu tidak memberikan
  • tanggapan pada vaksin tertentu, berati mereka tidak memproduksi antibodi bahkan setelah divaksin dengan benar.
  • berbagai macam faktor seperti etnis, usia, atau kelainan genetik.

Jika individu yang divaksin tetap sakit, maka penyakitnya lebih jinak dan tidak mudah menyebarkan penyakit daripada pasien yang tidak divaksin.[5]

Hal-hal yang harus dipertimbangkan untuk keefektifitasan program vaksinasi:

  • membuat model yang lebih hati-hati untuk mengantisipasi damapak dari sebuah kampanye imunisasi pada epidemiologi penyakit dalam jangka menengah dan panjang
  • pemantauan terus menerus pada penyakit tersebut setelah penggunaan vaksin baru
    tetap menjaga tingkat imunisasi yang tinggi, bahkan ketika penyakit sudah jarang ditemukan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s