Synflorix, Vaksin Pnemokokus Mencegah Invasive Pneumococcal Disease (IPD)

Synflorix, Vaksin Pnemokokus Mencegah Invasive Pneumococcal Disease (IPD)

Vaksin pneumokokus (PCV : Pneumococcal Conjugate Vaccine) adalah vaksin berisi protein konjugasi yang bertujuan mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae atau lebih sering disebut kuman pneumokokus. Vaksin ini ditujukan untuk mereka yang memiliki risiko tinggi terserang kuman pneumokokus. Penyakit yang disebabkan oleh kuman pneumokokus sering juga disebut sebagai penyakit pneumokokus. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dengan angka tertinggi menyerang anak usia kurang dari 5 tahun dan usia di atas 50 tahun. Terdapat kelompok lain yang memiliki resiko tinggi terserang pneumokokus (meskipun dari segi usia bukan risiko tinggi), yaitu anak dengan penyakit jantung bawaan, HIV, thalassemia, dan anak dengan keganasan yang sedang mendapatkan  kemoterapi serta kondisi medis lain yang menyebabkan kekebalan tubuh berkurang. Saat ini, dari sekitar 25 juta balita di Indonesia, sebagian besar berpotensi terkena serangan IPD. IPD adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus (streptoccoccus pneumoniae). Bakteri tersebut secara cepat dapat masuk ke dalam sirkulasi darah dan merusak (invasif) serta dapat menyebabkan infeksi telinga tengah atau otitis media, infeksi atau radang paru yang disebut pneumonia dan sinusitis. infeksi selaput otak (meningitis) yang biasa disebut radang otak. Saat ini sudah ditemukan vaksin pneumokokus bagi bayi dan anak di bawah 2 tahun yaitu Synflorix (mengandung 10 antigen, PCV-10).

Menurut data WHO setidaknya dilaporkan satu juta anak di bawah usia lima tahun meninggal setiap tahun akibat infeksi pneumokokus, terutama yang menyebabkan pneumonia. Gejala pneumonia di antaranya napas cepat, sesak, nyeri dada, menggigil, batuk dan demam. IPD adalah sekelompok penyakit yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae. Bakteri pneumokokus menimbulkan penyakit secara lokal atau non-invasive, seperti infeksi telinga tengah atau otitis media, infeksi atau radang paru yang disebut pneumonia dan sinusitis. Otitis media adalah infeksi bakteri pada telinga tengah yang dapat menyertai infeksi saluran pernapasan. Gejalanya antara lain nyeri telinga, demam, rewel, dan gangguan pendengaran sementara. Infeksi telinga tengah cenderung terjadi pada masa bayi dan kanak-kanak sehingga bisa menyebabkan gangguan pendengaran yang menetap dan mengalami keterlambatan bicara. Gejala bakterimia pada bayi kadang-kadang sulit diketahui karena pada awalnya dapat serupa dengan infeksi virus biasa, seperti bayi menderita demam tinggi dan rewel terus-menerus diikuti dengan atau tanpa infeksi saluran pernapasan.

Vaksin pneumokokus pada anak diberikan dalam 3 kali dosis dasar dan 1 kali dosis boosting. Pada dewasa pemberian vaksin dibagi menjadi dua tahapan. Pertama, vaksin pneumokokus jenis konjugasi dan selanjutnya diberikan jenis vaksin pneumokokus polisakarida. Sedangkan pada anak diberikan pada usia di bawah 1 tahun dengan dosis 3 kali, yaitu pada usia 2, 4 dan 6 bulan (Lihat Jadwal Imunisasi IDAI). Prinsip pemberian vaksin pneumokokus pada anak adalah vaksin diberikan pada anak usia 2 bulan dengan interval  4 – 8 minggu dan diberikan selama 3 kali. Vaksin pneumokokus memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan dengan vaksin jenis lain, seperti vaksin DPT. Tidak ada kontraindikasi absolut memberikan vaksin, hanya saja pemberian pada bayi yang sedang demam dapat mempengaruhi rasa nyaman bayi. Pemberian vaksin tersebut ditakutkan akan menimbulkan kekhawatiran orangtua terhadap perjalanan penyakitnya yang semakin berat padahal tidak terkait imunisasi. Untuk itu, idealnya vaksin diberikan pada saat kondisi bayi atau anak yang sehat, meskipun kondisi sakit ringan bukan kontraindikasi pemberian vaksin.

Vaksin pneumokokus berguna mencegah penyakit pneumokokus, seperti penyakit radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis) dan infeksi darah (bakteremia). Penyakit pneumokokus merupakan penyebab kematian yang paling tinggi pada anak balita. Berdasarkan data Badan PBB untuk Anak-Anak (UNICEF), pada 2015 terdapat kurang lebih 14 persen dari 147.000 anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia meninggal karena pneumonia. Dari statistik tersebut, dapat diartikan sebanyak 2-3 anak di bawah usia 5 tahun meninggal karena pneumonia setiap jamnya. Hal tersebut menempatkan pneumonia sebagai penyebab kematian utama bagi anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia.

Synflorix, Vaksin Pnemokokus Mencegah Invasive Pneumococcal Disease (IPD)

  • Bila serangan infeksi yang secara cepat masuk ke dalam sirkulasi darah dan merusak (invasive), seperti infeksi selaput otak (meningitis) atau biasa disebut radang otak. Bila bakteri pneumokokus masuk dalam sirkulasi darah atau bakteremia, maka ia akan menyebabkan berbagai gangguan organ tubuh disebut sepsis. Akhirnya ini bisa menimbulkan kegagalan fungsi organ atau multi organ failure.
  • Ada tiga bakteri penyebab meningitis, yaitu Streptococcus pneumoniaeHaemophilus influenzae tipe b, dan Niesseria meningitides. Dari ketiga itu Streptococcus pneumoniae adalah bakteri yang sering kali menyerang anak di bawah usia dua tahun.  Gejala meningitis di antaranya demam tinggi, nyeri kepala hebat, mual, muntah, diare, leher kaku, dan takut pada cahaya (photophobia). Bayi rewel, tampak lemah dan lesu (lethargic), menolak makan, dan pada pemeriksaan teraba ubun-ubun menonjol, serta dapat terjadi penurunan kesadaran dan kejang.
  • Meningitis karena bakteri pneumokokus dapat menyebabkan kematian pada 17 persen penderitanya hanya dalam waktu 48 jam. Dan apabila sembuh, sering kali meninggalkan kecacatan permanen, misalnya gangguan pendengaran dan saraf seperti gangguan motorik, kejang, keterbelakangan mental, dan kelumpuhan.
  • Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bayi dan anak di bawah usia dua tahun pernah menjadi pembawa (carrier) bakteri pneumokokus di dalam saluran pernapasan mereka. Bayi baru lahir hingga usia dua tahun berisiko terkena penyakit IPD. Bakteri ini menyebar di udara saat seseorang bersin atau batuk. Ada beberapa lokasi yang berpotensi bagi penyebaran bakteri pneumokokus, yaitu interaksi antara anak dan manula yang mengidap penyakit ini secara terus-menerus, antar bayi dan anak di tempat-tempat umum, kendaraan umum, lingkungan tetangga, tempat penitipan anak (TPA), dan kelompok bermain (playgroup).

Pencegahan

Beberapa cara dapat dilakukan orang tua dalam mencegah anaknya tertular penyakit IPD adalah

  • Vaksinasi anak sedini mungkin dengan vaksin Haemophilus influenzae type b (Hib) Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7). Pada usia anak 2 bulan.
  • Jaga selalu kebersihan anak. Jauhkan dari jangkauan orang-orang yang berpotensi menderita penyakit ini.
  • Bila anak dititpkan pada playgroup atau tempat penitipan anak sebaiknya selektif dalam memilih tempatnya.

Imunisasi Pencegahan IPD

  • Pengobatan IPD semakin dipersulit dengan adanya peningkatan bakteri pneomokokus terhadap beberapa jenis antibiotik, infeksi bakteri yang sangat cepat dan merusak organ tubuh dan sistem saraf, serta meninggalkan kecacacatan permanen yang akan menurunkan kualitas hidup anak sepanjang usianya. Karena itu upaya preventif sedini mungkin dengan pemberian vaksin pneumokokus kepada bayi dan anak di bawah usia dua tahun. Vaksin pneomokokus diberikan dengan jadwal pemberian empat kali pada usia 2, 4, 6, dan antara 12 hingga 15 bulan.
  • Vaksinasi dipercaya sebagai langkah protektif terbaik mengingat saat ini resistensi kuman pneumokokus terhadap antibiotik semakin meningkat. Karena anak-anak di bawah usia 1 tahun memiliki risiko paling tinggi menderita IPD, maka amat dianjurkan agar pemberian imunisasi dilakukan sedini mungkin. Saat ini sudah ditemukan vaksin pneumokokus bagi bayi dan anak di bawah 2 tahun.  Selain Prevenar, di Indonesia juga beredar vaksin PCV lainnya yaitu Prevnar 13 dan Synflorix.
  • Pengobatan IPD semakin dipersulit dengan adanya peningkatan bakteri pneomokokus terhadap beberapa jenis antibiotik, infeksi bakteri yang sangat cepat dan merusak organ tubuh dan sistem saraf, serta meninggalkan kecacacatan permanen yang akan menurunkan kualitas hidup anak sepanjang usianya. Sangat direkomendasikan upaya preventif sedini mungkin dengan pemberian vaksin pneumokokus kepada bayi dan anak di bawah usia dua tahun.
  • Vaksin untuk penyakit IPD ini penting sekali diberikan pada anak. Apalagi pada daerah-daerah yang rentan terserang wabah meningitis. Adapun vaksin yang telah dikenal di Indonesia sebagai pencegahan terhadap meningitis pada anak, di antaranya Haemophilus influenzae type b (Hib) Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7).
  • Vaksin pneomokokus diberikan dengan jadwal pemberian empat kali pada usia 2, 4, 6, dan antara 12 hingga 15 bulan. Dalam hal ini, orang tua bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis anak mengenai jadwal pemberian vaksinasi yang tepat sesuai usia dan kondisi kesehatan anaknya.
  • Cara bekerjanya, merangsang sistem kekebalan dan menciptakan memori pada sistem kekebalan tubuh. Injeksi vaksin pneumokokus ke dalam tubuh memberikan pengenalan sistem kekebalan tubuh pada 7 jenis/serotipe bakteri pneumokokus yang paling umum menyerang bayi dan anak. Dengan pemberian vaksin, serangan bakteri ini di kemudian hari dapat dicegah. Studi klinis tahun 2003 menunjukkan pengurangan jumlah bayi penderita IPD sebanyak 78% setelah anak divaksinasi saat berusia di bawah 2 tahun. Bahkan FDA (Food and Drug Administration) di AS menyutujui vaksin pneumokokus sebagai satu-satunya vaksin untuk mencegah IPD pada bayi dan anak sekaligus merekomendasikan bayi dan anak di bawah usia 2 tahun untuk mendapat vaksin pneumokokus. Tak heran kalau vaksin ini diwajibkan di Amerika Serikat, Australia dan Eropa, sedangkan di Indonesia baru mulai diperkenalkan pada tahun 2006 ini. Reaksi terhadap vaksin yang terbanyak dilaporkan adalah demam ringan

Synflorix Vaksin pneumokokkus (Pneumococcal Conjugate Vaccine)

Synflorix adalah vaksin pneumokokkus (pneumococcal conjugate vaccine) yang diberikan pada anak usia 6 minggu – 2 tahun untuk mencegah infeksi Streptococcus pneumonia. Streptococcus pneumoniae adalah bakteri yang dapat menyebabkan invasive pneumococcal disease (IPD) yaitu meningitis, sepsis, otitis media, dan pneumonia.

Synflorix merupakan vaksin PCV-10 yang sudah tersedia di Indonesia. PCV-10 berarti pada Synflorix terdapat 10 antigen pneumococcus. Synflorix dapat melindungi anak dari 10 antigen/strain pneumococcus. Perlu diketahui bahwa jumlah strain bakteri pneumococcus mencapai lebih dari 90 strain. Synflorix hanya mempunyai efek proteksi terhadap 10 strain pneumococcus sesuai dengan jumlah dan jenis antigen yang terkandung di dalamnya. Meskipun demikian, 10 antigen yang terkandung dalam Synflorix merupakan antigen paling sering yang menyebabkan infeksi pada anak-anak. Sehingga diharapkan imunisasi tersebut mempunyai efek dapat mencegah penyakit invasive pneumoccal disease (IPD).

Adapun jumlah dan jenis antigen yang terkandung dalam Synflorix (pada setiap 0,5 ml vaksin) adalah :

  • Pneumococcal polysaccharide serotype 1 : 1 microgram
  • Pneumococcal polysaccharide serotype 4 : 3 microgram
  • Pneumococcal polysaccharide serotype 5 : 1 microgram
  • Pneumococcal polysaccharide serotype 6B : 1 microgram
  • Pneumococcal polysaccharide serotype 7F : 1 microgram
  • Pneumococcal polysaccharide serotype 9V : 1 microgram
  • Pneumococcal polysaccharide serotype 14 : 1 microgram
  • Pneumococcal polysaccharide serotype 18C : 3      microgram
  • Pneumococcal polysaccharide serotype 19F : 3      microgram
  • Pneumococcal polysaccharide serotype 23F : 1      microgram

Cara pemberian

  • Synflorix, Pevenar-7 dan Prevnar 13 (yang mengandung 13 antigen, PCV-13) diberikan dengan cara disuntikkan intramuscular (disuntikkan pada otot) dipaha (anak di bawah 1 tahun) atau di lengan atas (anak besar/dewasa).
  • Imunisasi PCV diberikan 4 kali sesuai dengan jadwal yang direkomendasikan oleh IDAI. Dosis setiap pemberian adalah 0,5 ml.
  • Imunisasi IPD bisa diberikan dua minggu setelah imunisasi lainnya, dan cukup aman.
  • Anak ibu sudah berusia 6 bulan, maka anak ibu dapat dijadwalkan untuk mendapatkan imunisasi IPD sebanyak 4 dosis (4 kali pemberian). IPD kedua diberikan minimal 4 minggu setelah IPD 1, IPD ketiga diberikan minimal 4 minggu setelah IPD kedua, dan IPD keempat diberikan setelah usia 12 bulan (usia 12 bulan – 59 bulan), dengan interval minimal 8 minggu dari IPD ketiga.
  • Imunisasi IPD dapat dilakukan secara simultan bersamaan dengan pemberian polio, DaPT (DPaT) dan Hib. Imunisasi sebaiknya diberikan simultan untuk mencegah keterlambatan imunisasi lainnya.

Efek samping Imunisasi

Efek samping yang mungkin timbul adalah :

  • Nyeri, kemerahan, dan bengkak di tempat suntikan
  • Demam, suhu bisa mencapai 38 C atau lebih
  • Anak menjadi rewel
  • Anak kehilangan nafsu makan

Efek samping yang jarang :

  • Reaksi alergi/anafilaksis
  • Diare
  • Menangis tanpa sebab yang jelas

Imunisasi tersebut sebaiknya tidak diberikan apabila :

  • Anak mempunyai riwayat alergi/hipersensitif terhadap zat aktif yang terkandung di dalam vaksin. Tanda alergi adalah kulit kemerahan, gatal, sesak napas, atau bengkak pada wajah dan bibir.
  • Anak sedang  sakit infeksi yang ditandai dengan demam tinggi, suhu lebih dari 38      C. Apabila ada infeksi berat atau demam tinggi, imunisasi sebaiknya ditunda. Apabila sakit ringan seperti pilek atau common cold, imunisasi dapat diberikan.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s