Imunisasi MR, Lumpuh, Benarkah Berkaitan ?

Imunisasi MR, Lumpuh, Benarkah Berkaitan ?

Niken Angelia dikabarkan lumpuh usai mendapat imunisasi MR di sekolah. Niken seorang siswi SMP di Demak, Jawa Tengah yang terpaksa dibawa ke rumah sakit setelah diimunisasi MR (Measles Rubella). Ia mengalami kelumpuhan dan dilarikan ke RSUP Karyadi, Semarang. Peristiwa ini sempat membuat sebagian masyarakat cemas dan dikhawatirkan akan menimbulkan penolakan terhadap program kesehatan tahunan pemerintah. Menurut Ketua Komisi Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas PP KIPI), Hindra Irawan Satari, sampai saat ini belum ada bukti kondisi tersebut terjadi karena imunisasi MR. 

Niken dilaporkan mengeluh pusing dan lemas setelah mendapatkan imunisasi MR hari Rabu (2/8) lalu. Sakit mulai dari pinggang sampai kaki dirasakan Niken hingga akhirnya dirawat di RSI NU Demak kemudian ditujuk ke RSUD Sunan Kalijaga hingga akhirnya ke RSUP dr Kariadi Semarang.

Hindra Irawan Satari mengungkapkan, pelajar tersebut sakit bukan akibat dari vaksin. Penderita tesrebut ternyata pernah sakit, bukan karena vaksin. Sampai hari ini belum ada, belum cukup bukti (untuk mengatakan ia sakit karena vaksin). Sebelum disuntik, ia punya kondisi yang berbeda, kaki kanannya kecil, matanya juling. Kondisi fisik sebenarnya tak berpengaruh terhadap pemberian vaksin. Sebenarnysa anak bisa diberikan vaksin dalam kondisi sehat. Hindra berkata, reaksi atau kejadian ikutan setelah pemberian vaksin adalah wajar. Perlu diingat bahwa vaksin adalah virus yang sudah dilemahkan, sehingga wajar bila ada reaksi oleh tubuh dan ada timbul gejala ringan. Virus ini hidup, tapi tidak langsung memberikan gejala. Ada rentang sampai ada gejala.

Kejadian medik pasca pemberian vaksin dapat berupa tanda, gejala, serta pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan juga berupa Causality Assesment yakni mengkaji data yang ada, melakukan klasifikasi, apa ada hubungan dengan vaksin. Wajar ada reaksi, wajar bila ada kejadian. Sejauh kasus tidak banyak. Tapi kalau berlebihan, ada kecurigaan produk vaksin bermasalah,” ujarnya.

  • Kendati terdapat kasus kejadian pasca imunisasi, pemerintah melalui Kemenkes tetap melanjutkan program kesehatan dalam rangka mewujudkan eliminasi penyakit campak dan rubella pada 2020. Program ini dibagi dalam dua fase, fase I pada Agustus-September 2017 di pulau Jawa dan fase II pada Agustus-September 2018 di seluruh provinsi di luar pulau Jawa. Di pulau Jawa, targetnya sebanyak 34.9 juta anak. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Mohammad Subuh mengatakan, hingga Senin kemarin, sebanyak 38.5 persen sudah tercapai atau sekitar 13.4 juta lebih anak sudah divaksin.Artinya jumlahnya mencapai 2,7 persen per hari. Animo masyarakat untuk diimunisasi cukup besar.
  • Sementara itu, Medical Officer Imunization dari WHO Indonesia, Virod Bura mengatakan, seharusnya masyarakat Indonesia tak perlu khawatir soal kualitas vaksin yang digunakan pemerintah.”Campak dan rubella sudah jadi persoalan global. 153 negara sudah melakukan vaksin MR. Seharusnya kita tak mempermasalahkan kualitas vaksin, karena vaksin sudah world class top quality vaccin. Seharusnya kita fokus pada bagaimana kampanye ini meluas dan berhasil,” ujarnya.

    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s